Wednesday, October 16, 2013

Mr. Y

Kau tak akan pernah kehilangan setitik pesona tawa yang akhirnya memberi kesan menyenangkan untuk sekedar dinikmati. Dimana pun kau duduk dan tersenyum, mataku tak pernah sekejap pun beralih pandangan.
Andai kau sadar, aku pasti mencari cara untuk menghindar. Sayangnya aku memang tak pernah bisa menghindar yang mengartikan bahwa kau juga tak pernah membalas tatapanku.
Berharap kau juga tak pernah sembarangan mengumbar kalimat yang bisa membutakan hati. Ketika kau jujur, aku jauh lebih merasakan buta hati. Semua perempuan kau jamah sesuka hati sedangkan aku tetap berharap suatu hari nanti aku yang menjamahmu. Menggantikan posisi mereka yang kau kejar dan tak bisa kau dapatkan. Tapi kapan?
Aku terlalu luluh hanya dengan sekedar berkhayal tentangmu. Aku bilang aku bodoh? Entahlah..
Aku sadar aku bukan seperti mereka, perempuan yang kau kejar, atau bahkan seperti perempuan pertamamu yang kau pikir tak akan pernah ada lagi penggantinya.

Sampai kapan kau kuat berlari?

Saturday, March 2, 2013

Ibu, maafkan aku

Namaku Dwi Atika Wiryowati. Ibu memanggilku Tika dan ayah tidak suka dengan nama ini. Entahlah, ayah dan ibu selalu berdebat. Ibuku selalu mengakhirinya dengan tidak membalas perdebatan ayah, tanda mengalah. Hanya sekali ayah mengalah, ketika ibu melahirkanku dan memberikanku nama ini. Setelah aku tumbuh dewasa aku sudah tidak pernah tahu sekalipun ayah mengalah. Masa kecilku memang selalu bersama ayah karena aku takut pada ibuku yang selalu memukul dengan benda tajam. Aku takut dengannya. Aku takut ketika harus ditinggal berdua saja dengan ibu. Memang bukan tanpa alasan ibu memukuliku. Terkadang aku tidak mau makan, tidak mau pergi mengaji, melontarkan kata-kata yang kasar pada ibu, dan masih banyak alasan lagi yang akhirnya membuat ibuku marah. kejam? ya. kupikir dulu ibuku memang ibu terkejam yang pernah ada. pernah ketika aku berusia 4 tahun ibu mengusirku dari rumah dan membungkus pakaianku dalam kantong kresek kemudian membuangnya keluar rumah. Ibu mana yang tega memperlakukan anaknya yang masih berusia balita dengan cara seperti itu? sempat ku berpikir, cuma ibuku yang lihai. Selain itu ibu juga sering mengeluh karena terlalu lelah dengan pekerjaan di rumah seperti mengepel, menyapu, memasak, mencuci,dan sebagainya. Hingga pada suatu hari ibu melempar sapu ke arahku dan berkata,

"urus kamarmu sendiri! mau sampai kapan kamu malas-malasan. tidur, makan, keluyuran! ga usah pulang sekalian!".

Aku tidak sedih ketika tahu ibu marah. Justru aku membalasnya dengan emosi yang berujung pertengkaran mulut, kemudian ibu melempar benda-benda hingga menimbulkan kegaduhan di rumah. Tapi semua berubah drastis ketika aku telah berusia 15 tahun. Ibu sudah berhenti bersikap kasar padaku. hanya sesekali ibu menegur dengan caranya yang masih mengandalkan emosi. Wajar jika akhirnya sifat ibu menurun padaku.

Beberapa tahun setelahnya ibuku semakin melunak. Belum pernah ku lihat ibu bersikap seperti ini. Bahkan segala keluhan tidak pernah ku dengar. Ibu lebih memilih diam ketika mendapati masalah. Gantian ayahku yang semakin tidak bisa diajak kompromi, kolot, dan selalu semaunya sendiri. Aku lebih memilih tidak banyak berdebat dengan ayah karena akan berakhir emosi hingga berhari-hari.

Suatu hari aku membawa seorang teman lelaki yang baru seminggu ku kenal, namanya Adam. Sudah hampir 7 jam ia berada di rumah. Tiba-tiba ibu keluar dari kamarnya dan memanggilku dengan ketus.

"Tika, ada telepon buat kamu".

sesampainya di depan telepon rumah ternyata telepon dalam keadaan tertutup dan ibu hanya beralasan agar dapat menegurku.

"kamu tahu waktu ga? temanmu juga. dari jam 2 siang sampai jam 9 malam bertamu ke rumah orang! apa ga malu sama tetangga?"

aku hanya diam. ah, sudahlah aku memang salah. setidaknya ibu tidak pernah lagi marah dengan membanting segala benda yang bisa digenggam tangan.
Ya.. kemarahan-kemarahan semacam itu saja yang beberapa kali ku dengar dan tidak sering seperti dulu. mungkin karena aku sudah bisa dijadikan teman berbagi cerita atau mungkin karena anak usia dewasa sudah tidak pantas lagi diperlakukan seperti ketika balita, dipukuli, dicubit, dikurung dalam kamar mandi. Tuhan.. balita pun rasanya juga tidak pantas mendapat perlakuan seperti itu.

Setelah kini aku kuliah, aku seringkali masuk pagi dan pulang malam. pertemuan dengan ibu jarang terjadi, mungkin di akhir pekan. itupun jika aku di rumah. segala pekerjaan rumah tangga dikerjakannya sendirian. tidak pernah sekalipun memaksaku untuk memasak, mencuci baju, membersihkan rumah. sekalipun aku di rumah dan hanya bersantai, menonton televisi, bermain handphone, dan ketika itu pula ibu repot memasak disambi mencuci baju. semalas apapun aku, ibu tidak pernah menegur. mungkin ibu menungguku sadar dan sayangnya aku susah untuk sadar diri. . Aku hanya diam, tak jarang aku menangis ketika Tuhan memberikan waktu-Nya untuk berdua saja denganku.

Sekali dua kali aku terketuk untuk membuatnya bahagia atau setidaknya membantu beberapa pekerjaannya di rumah. Tapi entahlah, ibu merasa bahagia atau tidak. Yang ku lihat, ibu selalu tersenyum di sela-sela kelelahannya.

Terima kasih Tuhan..
Terima kasih Ibu..
Maafkan Tika

Monday, February 25, 2013

Rasa..

aku heran dengan diriku sendiri yang terlalu sering menangis tiap kali menghadapi masalah. ah, jangankan masalah, ketika bahagia pun aku mudah menangis. terlebih aku merasa bodoh ketika menangis karena cinta. karena ku tahu kalian yang tiba-tiba saja berlari di luar jangkauan ku dan tak kembali. ya, kalian pergi. satu yang terlalu berat ku tinggalkan, kau. kau pun sadar aku masih menunggu dan kau pun terus menjauh, ya kan? justru aku melihatmu tertawa lepas dengan berbagai  perempuan yang hadir tiap hari seolah menggantikan siapa aku. Lalu bagaimana bisa cinta bertahan hanya dengan satu sisi? aku saja dan kau yang kupikir sudah tak pernah mengandalkan hati. kau itu kupertahankan, apa timbal baliknya? kau pikir aku tak bisa menangis ketika melihatmu berjalan dengan si A hingga tengah malam, menyapa "sayang" dengan si B setiap malam. aku terlalu rapuh untuk kau permainkan. siapa dia, dia, dia? dan kau pertanyakan apa hakku untuk menanyakan siapa mereka. sadarlah sedikit. banyak yang menangis dibelakangmu dan itu semua karenamu. semakin hari ku tahu kau semakin gila menebar kenyamanan pada mereka dan aku juga. kau bilang semua itu temanmu. oh.. teman yang kau panggil "sayang", teman yang keluar hingga larut malam, teman yang hampir tiap malam dinner bersama. teman? kau itu rasanya tak punya hati. kau dan lelaki dimana-mana lebih tunduk pada pikiran, logika, otak, ah apa lah itu namanya. kau sebut itu mampu menjadi tolak ukurmu dalam bertindak, entah itu akan berujung menyakiti, menjauhi, atau mengkhianati. sekali-kali gunakan perasaanmu. rasa itu perlu agar kau tak mudah menyakiti lawan jenismu. ingat! ibumu wanita. hargai aku, dia, mereka, layaknya kau menghargai ibumu. jangan asal menciptakan ruang nyaman untuk setiap mereka yang datang padamu lalu kau tinggal kemudian. pantasnya ku sebut kau lelaki apa? kau itu bodoh, cuma itu yang ku tahu.. dan aku lebih bodoh daripada kau karena aku berikrar menunggumu kembali meski aku perlahan kau tinggal di belakang.

Logika..

aku ini lelaki yang.. entahlah.. kalian mau sebut aku apa. busuk, playboy, brengsek, apapun itu yang sekiranya tak pernah pantas dijadikan predikat untuk lelaki baik-baik. aku juga tak mengerti kemana sebenarnya arah pikiranku berjalan. dasarnya memang aku lebih suka mengikuti apa kata pikiran daripada kata hati. tak seperti mereka, perempuan yang mengagungkan perasaan dan membuang jauh-jauh logikanya. tapi terkadang aku merasa bodoh dengan keadaan ini. aku sama sekali tak bisa memainkan perasaan dan logikaku bersamaan. ya, terkadang pula aku ingin menjadi seperti mereka yang bisa mengandalkan perasaannya. tapi bukan berarti aku tak nyaman dengan siapa aku sekarang. jauh dari kecemasanku itu, aku merasa nyaman sekali terutama berada di sekeliling mereka yang rela menangis karenaku. bukan maksud sengaja membuat mereka tersungkur rapuh, namun aku juga tak paham dengan mereka yang perduli denganku sementara aku tak pernah mengawali umbar perduli pada mereka. aku hanya bisa membuat mereka nyaman tanpa bermaksud mengakhiri dengan tangisan. akupun tak mengerti mengapa aku mudah sekali terbawa permainan perasaan mereka dan mereka yang tak pernah terbawa permainan pikiranku. aku lebih memilih mengakui kesalahanku pada mereka yang terlanjur nyaman denganku dan kemudian ku tinggal dengan alasan aku yang sudah mulai tak nyaman dengan kehadiran mereka. anehnya, aku selalu seperti ini tanpa ada penyesalan dan trauma. mungkin akan seperti ini terus menerus sampai ku temukan yang benar-benar pantas menjadi pendamping. mm.. tunggu. pendamping? ah.. aku belum berpikir ke arah sana. ada satu perempuan dari masa lalu yang masih berada di belakangku. akupun sudah tak punya niatan untuk kembali padanya kecuali Tuhan yang mengizinkan. sudah kutinggalkan, tetap saja aku diberi perhatian. aku ini kenapa? kembali lagi terserah kalian menilai aku seperti apa. terserah.

Sunday, February 24, 2013

Musicology


PHOTOGRAPHER inggit f | EDITOR dyah wuri | MODEL dyah wuri













PHOTOGRAPHER inggit f | EDITOR dyah wuri | MODEL aulia anis






PHOTOGRAPHER dyah wuri | EDITOR dyah wuri | MODEL inggit f














PHOTOGRAPHER dyah wuri | EDITOR dyah wuri | MODEL inggit - aulia













PHOTOGRAPHER inggit f | EDITOR dyah wuri | MODEL aulia - wuri













Monday, February 11, 2013

Jogja, 8 Februari 2013

Jogja! Baru kali ini backpackingan berdua aja. Just Rome and me. How dare we are! :D
Ya.. itungannya ini cuma sehari ada di Jogja. Kamis malam sampai, Jumat jalan-jalan seharian sampe tengah malam, dan Sabtu pagi sudah harus pulang. Pelajaran sih, kapan-kapan kalo ke Jogja lagi ga bisa pake teknik gituan. Setidaknya harus terjadwal satu minggu lah disana baru bisa puas. Meski cuma sehari tapi lumayan lah pulang-pulang bawa segudang cerita. Mulai dari penginapan yang berjarak 5km dari pusat kota, ribut sama pedagang malioboro, kemana-mana gowes. Capeknya hebat lah ini.


Economic Class Train



Taman Sari












Vredenburg





 Keraton






Penginapan



Yes.. You will be the second beautiful and unforgettable city after Surabaya. I'll come back again someday. I promise! :D

Tuesday, February 5, 2013

Hunting Kenpark

Photographer      : Akhmad Syahrial 
Editor             : Dyah Wuri K
Model             : Aulia Anis













Photographer      : Akhmad Syahrial 
Editor             : Dyah Wuri K
Model             : Dyah Wuri














Photographer      : Akhmad Syahrial 
Editor             : Dyah Wuri K
Model             : Febri Ichsan
















Wednesday, January 23, 2013

Pajamas Renbo

Kita selalu melakukan kegiatan yang namanya "Pajamasan", yaaaa semacam curhat dan saling kasih kritik saran satu sama lain, bukan pajamas party dengan makna yang sebenarnya. Biasanya kita melakukan kegiatan ini tiap awal tahun dan tahun ini adalah tahun ketiganya Renbo mengadakan pajamas party. Tujuannya biar kita saling tahu sebenarnya kita di mata yang lain selama setahun ini seperti apa. Yang namanya sahabat sekalipun ga akan pernah namanya akur, pasti ada konflik dan konflik itu ga selalu diselesaikan langsung dengan yang bersangkutan, akhirnya curhat ke lainnya. Kenapa? ya jelas, faktor utamanya adalah sungkan meski ada beberapa dari kita yang ga sungkan-sungkan ngomong langsung sama yang lainnya ketika merasa ga enak hati. Nah, di pajamas ini kita keluarkan semua unek-unek yang ada di kepala tentang si not, pucy, inggit, maya, lala, rome, lely, dan wuri. Semuanya. Apapun itu tanpa terkecuali. Bisa jadi kita melihat ada yang nangis, senyum-senyum sinis, ketawa girang, ada juga yang pede karena dinilai ga ada kekurangan di mata kita selama ini. Masa-masa seperti ini entahlah bakal ada lagi atau lenyap tahun depan. Tahun ini kita wajib wisuda!!! :D. Tapi kalo bisa ga berhenti disini aja pajamasannya. Hopefuly, girls..
Salam kembang pelangi :*